Dyah Eka
Wardhani | 07 | XI MIA 2 Artikel
Pertumbuhan Ekonomi
Perlu
Terobosan Jangka Pendek Dorong Pertumbuhan Ekonomi
AGUSTINUS HANDOKO
Siang | 7 Agustus 2015
16:23 WIB
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah harus
membuat terobosan jangka pendek untuk mendorong perekonomian dan memulihkan
kepercayaan investor. Pelambatan pertumbuhan ekonomi yang berlanjut hingga
triwulan I-2015 makin menekan nilai tukar rupiah.

Kasir menghitung uang rupiah di Bank
Mandiri, Jakarta, Selasa (9/6). Nilai tukar rupiah menurut kurs referensi
Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat (7/8) adalah Rp 13.536
per dollar AS, melemah dari posisi sehari sebelumnya Rp 13.529 per dollar AS.
Nilai tukar rupiah menurut kurs
referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat (7/8) adalah
Rp 13.536 per dollar AS, melemah dari posisi sehari sebelumnya Rp 13.529 per
dollar AS. Rupiah terus tertekan sejak awal tahun dan berlanjut karena
realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan II-2015 melambat menjadi 4,67 persen.
Pengamat ekonomi Universitas
Indonesia, Lana Soelistianingsih, menuturkan, pelemahan rupiah berlangsung
sangat cepat. "Rupiah melemah dari batas aman Rp 13.380 ke Rp 13.500 hanya
dalam dua minggu. Ini sangat mengejutkan sehingga semua pihak harus bergerak
cepat, terutama pemerintah harus membuat terobosan jangka pendek agar investor
tenang dan rupiah agak stabil," kata Lana.
Pemerintah berkali-kali menyebutkan
bahwa pertumbuhan ekonomi akan membaik pada triwulan III dan IV sejalan dengan
makin agresifnya belanja pemerintah. Namun, hal itu tetap tak mampu memberi
keyakinan kepada investor sehingga rupiah tetap tertekan.
Hal ini berbeda dengan India. Walau
pemerintahannya juga baru, mereka berhasil meyakinkan investor bahwa prospek
perekonomian India membaik. Upaya pemerintah itu berhasil menjaga nilai tukar
mata uangnya.

Lana menambahkan, Otoritas Jasa
Keuangan sebaiknya membuat terobosan untuk mencari data pembeli valas dalam
nominal besar di perbankan. "Saya khawatir, ada spekulan-spekulan yang
bermain sehingga rupiah terus melemah, bahkan dalam waktu yang relatif singkat.
Dengan data itu, OJK bisa mengambil sikap," kata Lana.
Jumat sore ini, Bank Indonesia
rencananya akan mengumumkan cadangan devisa Indonesia Juli 2015. Pada Juni
lalu, cadangan devisa Indonesia tercatat 108,03 miliar dollar AS. Sebagian
cadangan devisa digunakan oleh BI untuk mengintervensi pasar valuta asing agar
pergerakan nilai tukar rupiah tidak terlalu tajam. Pengumuman mengenai cadangan
devisa itu akan memberi gambaran sejauh mana intervensi BI di pasar valas.
Bebani sektor riil
Terobosan jangka pendek juga harus
dilakukan pemerintah karena pelemahan nilai tukar rupiah makin membebani sektor
riil. Sebetulnya, pelemahan nilai tukar rupiah bisa dimanfaatkan untuk
menggenjot kinerja ekspor karena harga produk menjadi lebih kompetitif di pasar
dunia. Namun, saat ini harga komoditas unggulan ekspor sedang jatuh sehingga
pelemahan rupiah tak berdampak positif ke sektor ekspor, justru berdampak
negatif ke sektor riil.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha
Indonesia Hariyadi Sukamdani menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah
membebani sektor usaha karena ongkos produksi meningkat. "Sebagian bahan
baku untuk industri berasal dari impor. Begitu rupiah melemah, ongkos produksi
langsung naik. Padahal, kondisi ekonomi sedang tidak bagus sehingga daya beli
masyarakat turun," kata Hariyadi.
Selain faktor domestik, pelemahan
rupiah dipicu oleh sentimen dari pasar global, terutama rencana kenaikan suku
bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Rencana kenaikan suku bunga The Fed
menyebabkan penguatan dollar AS.
Direktur Kantor Gubernur Bank
Indonesia Nanang Hendarsyah menuturkan, pelemahan nilai tukar tidak hanya
terjadi pada rupiah, tetapi sebagian mata uang dunia.
"Ini
adalah fenomena global. Selain terus memantau kondisi global, yang tak kalah
penting adalah menjaga volatilitas rupiah," kata Nanang.
Komentar :![]() |
